Selasa, 24 Juli 2012

Ramadhan, Kantin Sekitar BAAK Tetap Buka


GS. Pendaftaran ulang mahasiswa baru berbagai fakultas di Universitas Sriwijaya berlangsung dari tanggal 16 Juli hingga 27 Juli 2012. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan para pemilik kantin yang ada di lingkungan kampus Unsri Inderalaya untuk berdagang makanan di sekitar gedung BAAK tempat berlangsungnya pandaftaran ulang bagi mahasiswa baru angkatan 2012. Berbagai makan dijual disana, mulai dari bakso, mie ayam, nasi dan lain-lain.

Meski lebih dari setengah dari waktu pendaftaran berlangsung pada bulan Ramadhan, tak menyurutkan niat para pedagang untuk tetap berjualan pada waktu puasa. Seperti Rita, pemilik kantin Rio di Fakultas Ekonomi yang sudah 12 tahun berjualan di lingkungan kampus Unsri yang juga ikut berdagang di sekitar gedung BAAK Unsri. Ia mengaku akan tetap berjualan pada saat puasa meski harus mengurangi jam operasionalnya. “Ya masih tetap jualan karena mahasiswa baru yang mendaftar tidak sedikit yang non muslim, tutup juga lebih cepat satu setengah jam dari biasanya”.

Tidak hanya waktu yang dikurangi, menurut pengalamannya satelah bertahun-tahun berdagang saat pendaftaran mahasiswa baru, omset yang ia dapat juga dapat jauh berkurang saat bulan puasa.”Tentu jauh berkurang, turun lebih dari 50% untungnya kalau bulan puasa”, tambahnya. Meski keutungan yang didapat jauh berkurang, ia tetap berdagang demi untuk mencari rezeki dan membantu mahasiswa yang non-muslim atau sedang tidak menjalankan ibadah puasa sehingga mereka tidak sulit mencari tempat makan.

Meskipun berdagang pada siang hari saat puasa, kantin yang tetap buka akan ditutupi kain atau penutup lain untuk menutupi makanan yang sedang dipajang agar tidak menggangu mahasiswa yang sedang menjalankan ibadah puasa. (ddk)

Repoter: Dedek Mareta
Foto: Dok. LPM GS
Editor : Imam Rosevelt Dimas

Dikutip dari LPM GS UNSRI

Kunjungan Antar LPM, Anggota LPM GS Dapat Sambutan Baik


GS. Untuk melaksanakan program kerjanya, Lembaga Pers Mahasiswa Gelora Sriwijaya (LPM GS) melakukan kunjungan redaksi ke dua media nasional yang ada di Jakarta pada tanggal 11 Juli hingga 15 Juli kemarin. Selain menggunjungi media nasional, LPM GS juga mengunjungi dua LPM yang ada di Jakarta.
 
LPM Diamma yang berada di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) merupakan rekanan baru LPM GS menjadi tujuan pertama lokasi kunjungan. Tanpa istirahat, setibanya di Jakarta, Kamis (12/7) para anggota LPM GS langsung menuju LPM yang di pimpin oleh Yery Wahyudi FIKOM ‘09. Disini, selain mendapat sambutan yang baik, para anggota LPM GS juga banyak mendapat inspirasi dari LPM Diamma. Hal tersebut diungkapkan Nur Intan, salah seorang anggota LPM GS. “Kemajuan LPM Diamma sangat pesat untuk media online karena mereka saudah mengembangkan produk DiammaTV yang menjadi daya tarik web mereka sehingga ini menjadi acuan untuk LPM kita”, ungkapnya.
 
Selain LPM Diamma, LPM GS juga bertandang ke LPM Kampus Jaket Biru (KJB) Trisakti pada hari berikutnya. Tak hanya mendapat sambutan baik dari para anggota, LPM GS juga bertemu Yudha, salah seorang anggota LPM KJB yang berasal dari Kota Palembang. Tak ayal, Yudha dan para anggota LPM GS pun berbincang-bincang menggunakan bahasa Palembang sehingga membuat anggota KJB merasa bingung dengan percakapan yang mereka dengarkan. Sebagai buah tangan, anggota LPM GS mendapat majalah dan newsletter dari KJB Trisakti.
 
Sebelumnya, LPM GS juga pernah bertamu ke LPM KJB Triaskti pada tahun 2009 pada masa kepemimpinan Berlian Pratama dalam program yang sama. (ddk)

Repoter : Dedek Mareta
Foto : Dok. LPM GS
Editor : Imam Rosevelt Dimas

Dikutip dari LPM GS UNSRI

Janjikan Perbaikan Selesai Dalam Dua Bulan


GS. Pada kamis (6/7), Wakil DPRD Sumatera Selatan H.A Djauhari berjanji perbaikan jalan jalur Palembang – Inderalaya tepatnya yang berada di Simpang Pemulutan dan Simpang Musi 2 (Simpang Nilakandi, red) akan selesai dalam 2 bulan, terhitung mulai dari 5 Juli 2012. “Saya akan meminta pemerintah dalam hal ini akan menyelesaikan jalan itu selambat-lambatnya selama 2 bulan dapat diselesaikan”, ungkapnya. Beliau juga mengungkapkan bahwa dirinya sudah sering berbicara kepada Bupati Ogan Ilir untuk cepat menyelesaikan perbaikan jalan tersebut namun hasilnya tidak ada. Hal ini di ungkapkan langsung pada saat aksi Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (GEMPUR) yang menuntut solusi dari pemerintah untuk mengatasi kemacetan yang sering terjadi di sepanjang jalur Palembang – Inderalaya yang belakangan sering terjadi.

Aksi yang dilakukan di halaman kantor DPRD dan kantor Pemprov Sumatera Selatan ini beralangsung dari pukul 13.00 hingga 15.15 WIB. Dengan masa sekitar 150 mahasiswa Unsri dan perwakilan dari universitas lainnya. Dalam aksi ini mahasiswa juga menuding bahwa larinya Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin ke Jakarta untuk berkampanye ialah untuk melepaskan tangguang jawabnya sebagai gubernur dalam mengatasi kemacetan di Sumatera Selatan.
 
Aliansi mahasiswa GEMPUR yang merupakan gabungan dari mahasiswa Unsri, Polsri, IAIN Raden Fatah, UMP dan UNISKI melakukan aksi untuk meminta pemerintah Sumatera Selatan menyelesaikan kemacetan yang sering terjadi di jalur Palembang Inderalaya. Dalam hal ini mereka meminta penyalesaian masalah yang antara lain penyelesaian pembangunan jalur 2, pengehentian operasional truk batu bara yang melintas di sepanjang jalur Palembang Inderalaya yang merupakan langganan penyebab terjadinya macet. (ddk)

Reporter: Dedek Mareta
Foto: Dedek Mareta
Editor : Imam Rosevelt Dimas


Dikutip dari LPM GS UNSRI

Liburan Ala Jurnalis Kampus


GS. Senin, (02/07) Banyak hal yang dilakukan mahasiswa ketika sedang liburan di semester genap ini. Liburan semester genap merupakan liburan yang paling lama bila dibandingkan dengan liburan semester ganjil, berkisar hingga 2 hingga 3 bulan. Selain mahasiswa yang lain mengisi liburan nya dengan mengikuti kuliah semester pendek, ada juga yang pergi liburan ke luar kota, belajar berbisnis, bekerja, dan lain-lain.

Lain hal nya dengan seorang jurnalis kampus yang mengisi waktu liburan nya dengan mencari liputan sebuah berita dan menulis berita hingga dibaca oleh mahasiswa lainnya. “Tahun ini saya tidak ikutan Semester Pendek seperti teman-teman saya, jadi untuk mengisi kegiatan selama libur ya saya mencari berita.” Ungkap salah satu jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa Gelora Sriwijaya Dedek Mareta Managemen 2011.

Dedek menambahkan dalam peliputan berita, tidak hanya meliput berita seputar kampus Unsri saja, tetapi ada juga undangan kerja sama dari perusahaan yang mengharuskan dirinya pergi kesuatu tempat. “Kemarin, saya liputan di Desa Bukit Batu Kecamatan Air Sugihan selama 2 hari dan nanti saya peliputan khusus ke Desa Gajah Mati di daerah Mesuji, perbatasan Sumsel – Lampung. Ini juga menambah pengalaman saya sebagai jurnalis kampus dan di luar kampus.” Katanya.

Bukan hanya Dedek saja, tetapi banyak wartawan Lembaga Pers Mahasiswa Gelora Sriwijaya mencari kesibukan nya sendiri untuk mengisi waktu liburan untuk mencari berita dan menulis berita, karena sebagai kewajiban dari jurnalis kampus untuk memberikan informasi yang aktual untuk mahasiswa setiap harinya. (mna)

Reporter: Mona Ervita
Foto: Google
Editor: Dheni P. Rahayu

Dikutip dari LPM GS UNSRI

Berawal dari Hobi, Bisnis hingga Kuliner Kelinci


GS. Waktu libur semester genap biasanya dimanfaatkan para mahasiswa untuk lebih serius memperbaiki nilai dengan mengambil Semester Pendek (SP), namun apa salahnya jika waktu libur tersebut dimanfaatkan untuk lebih serius dalam bisnis. Seperti yang dilakukan Jovialco Sasongko. Mahasiswa Ekonomi Manajemen’11 ini tidak hanya memanfaatkan waktu libur semester dengan hanya mengikuti SP melainkan serius mengurus bisnis kelinci miliknya.

Bisnis kelinci yang ia jalani ini telah aktif pada Februari 2011 lalu. Dengan bermodal awal dengan menyisihkan uang jajan dan menjual telpon genggam miliknya, Jovi telah berhasil membuat hal yang berawal dari hobi tersebut menjadi bisnis. Saat ini ia memiliki 18 ekor kelinci yang mayoritasnya didapat dari kota Bandung dengan berbagai jenis, mulai dari kelinci lokal, lion lokal, hingga English Anggora. Harga jualnya pun beragam, mulai dari Rp.40.000 – Rp.250.000 untuk kelinci anakan dan Rp.100.000 – Rp.500.000 untuk kelinci indukan dan telah berhasil menjual puluhan kelinci miliknya.

Dalam bisnis ini juga banyak tantangan yang harus ia dihadapi. Seperti modal terbatas, kehabisan stok persediaan kelinci sehingga harus menunggu kelahiran kelinci baru jika ada yang memesan kelinci. Makanan dan obat-obatan juga menjadi hambatan karena harus didatangkan dari pulau Jawa karena penyebrangan yang bermasalah sehingga tak jarang bisnisnya tersebut menjadi terhambat.

Jovi yang juga tergabung dalam komunitas kelinci Rabbit Hobbies Community (RHC) ini berhasil membawa dirinya menjadi finalis 15 besar di ajang Wirausaha Muda Bina Darma pada awal Juni yang lalu. Bahkan pada awal bulan Juli nanti ia siap mengembangkan bisnis kelinci miliknya di bidang kuliner. Untuk menyambut bulan puasa yang tidak lama lagi tiba, ia membuat usaha sate kelinci yang memang sangat jarang ada di Palembang.
Jadi untuk teman-teman yang mempunyai jiwa wirausaha, mari manfaatkan juga waktu libur ini untuk berbisnis. (ddk)

Reporter: Dedek Mareta
Foto: Dok. Pribadi
Editor: Dhei Puji Rahayu

Dikutip dari LPM GS UNSRI