Jumat, 31 Agustus 2012

Tiga Mesin Cetak Rusak, Pembagian KPM DItunda


GS. Selain almamater, Pembagian Kartu Pengenal Mahasiswa atau KPM maba Unsri juga mengalami masalah. Hal ini dipicu karena tiga mesin cetak dari empat mesin cetak KPM yang dimiliki Unsri mengalami kerusakan. “Seharusnya pada saat maba Unsri melakukan registrasi pada saat itulah maba Unsri mendapatkan KPMnya, karna mesinnya rusak, Jadi kita tunggu dulu mesinnya” Ungkap Kepala Bagian Pendidikan dan Kerjasama BAAK Unsri Muhammad Yani, SE,. M.Si saat ditemui GS Rabu, (29/8) siang.

Kabag Bagian Pendidikan dan Kerjasama BAAK Unsri menjelaskan, pada awalnya ada rencana untuk membeli mesin cetak baru, namun stok mesin cetak telah habis, sehingga usaha yang dilakukan saat ini adalah memperbaiki mesin cetak KPM yang saat ini sedang diperbaiki di Jakarta. Kerusakan sendiri terjadi karena penggunaan mesin cetak yang digunakan secara terus-menerus.

Saat ditanyai tentang berapa lama perbaikan mesin cetak, kabag Pendidikan dan Kerjasama BAAK Unsri tidak bisa memprediksi kapan selesainya. “Jika mesin cetaknya sudah selesai, secepatnya akan kami proses dan akan kami serahkan ke fakultas” tutupnya. (den)

Reporter: Dheni Puji Rahayu
Foto: Dedek Mareta
Editor: Imam Rosevelt Dimas


Dikutip dari LPM GS UNSRI

Perusahaan Kalah Tender, Pemicu Pembagian Almamater Telat


GS. Pembagian almamater Mahasiswa Baru Unsri 2012 jalur Undangan, Tulis dan USM megalami penundaan sampai sebulan lebih. Hal ini disebabkan karena adanya perusahaan mengalami kekalahan tender. Menurut keterangan Kepala Bagian kemahasiswaan Baharuddin, SE. Pembagian almamater seharusnya dilakukan pada saat maba Unsri selesai melakukan regristrasi, tetapi pada saat pelelangan perusahaan yang kalah menggugah perusahaan pemenang tender. “Prosedur yang sekarang adalah prosedur lelang. Pada waktu lelang ada beberapa perusahaan. Ketika lelang ada perusahaan ada banyak perusahaan, dan salah satu yang menang. Yang kalah menggugah.” Kata Kepala bagian kemahasiswaa saat ditemui GS diruangannya, rabu (29/8) siang.

Hal ini menjadi faktor pemicu telatnya pembagian almamater maba Unsri 2012. Pihak Unsri sendiri juga sudah melakukan usaha untuk mempercepat pembuatan almamater maba Unsri pada perusahaan yang bersangkutan.“Perusahaan ini profesional, jadi dalam waktu yang singkat masih bisa dikerjakan, karna dituntut cepat” lanjut Baharuddin.

Untuk pembagiannya, almamater yang datang pertama sekitar 1200 dibagikan langsung pada maba jalur USM. “Pertama ada yang datang 1200, karna ada anak USM yasudah kita bagikan” Kepala Bagian kemasiswaan BAAK Unsri juga menambahkan bagi mahasiswa baru Unsri yang belum mendapatkan almamater untuk datang ke BAAK dan mengambil alamaternya. (den/ddk)

Reporter: Dheni Puji Rahayu dan Dedek Mareta
Foto: Rachmad Quddus
Editor: Imam Rosevelt Dimas

Dikutip dari LPM GS UNSRI

Kamis, 30 Agustus 2012

Pembantu Rektor III: Ini Kan Sudah Libur, Jadi Mau Bagaimana Lagi?


GS. Upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-67 yang dilaksanakan di lapangan sepak bola Kampus Unsri Bukit Jumat (17/8) berlangsung khidmat meski hanya dihadiri sedikit mahasiswa Unsri sendiri. Hal ini terlihat dari jauhnya perbedaan jumlah antara dosen dan mahasiswa yang berada di lapangan. Jumlah mahasiswa yang hadir diperkirakan hanya 25 orang saja.

Pembantu Rektor III dr. Syarif Husin M.S saat ditemui seusai upacara berpendapat bahwa hal ini disebabkan karena sudah masuknya waktu libur akademik dan mendekati waktu lebaran, sehingga banyak mahasiswa yang mudik dan tidak dapat hadir dalam upacara tersebut. “Sekarang kan posisinya sudah dalam kedaan libur. Kalau libur, bagaimana lagi” , ungkapnya.

Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-67 tersebut berlangsung hanya sekitar 30 menit sejak pukul 07.45-08.15 WIB tanpa adanya amanat dari inspektur upacara dan dihadiri oleh semua civitas Universitas Sriwijaya mulai dari mahasiswa, dosen, pegawai, Pembantu Rektor I, II, dan III dan Rektor Universitas Sriwijaya Prof. Dr. Badia Perizade, MBA yang bertindak sebagai inspektur upacara. (ddk/mut)
Reporter: Dedek Mareta, Mutia
Foto: Dok. GS
Editor: Dheni Puji Rahayu


Dikutip dari LPM GS UNSRI

Kamis, 16 Agustus 2012

Tak Dijumpai Di Palembang, Sate Kelinci dan Lumpia Jadi Bisnis Baru


GS. Untuk memulai sebuah usaha memang diperlukan ide agar usaha tersebut menjadi ladang bisnis. Hal ini lah yang dilakukan Dika dan Jovi, dua mahasiswa jurusan Manajemen’11 yang membuat usaha sate kelinci “Sate Kelinci Pakjo”. Usaha bersama yang dilakukan kedua mahasiswa tersebut yang baru dimulai saat masa semester pendek lalu di Jl. Swadaya 2 Pakjo.

Berawal dari usaha catering yang dimiliki Dika dan ternak kelinci yang digeluti Jovi serta melihat adanya peluang, maka terciptalah ide untuk membuat usaha makanan yang hanya biasa dijumpai di daerah Puncak tesebut. Dengan omset sekitar Rp. 300.000 per hari dan mendatangkan bahan baku berupa daging kelinci segar dari Bandung, mereka dapat menyajikan menu seperti Sate Kelinci Pakjo, Sate Kelinci Kecap, Kelinci Crispy dan juga Mie Tumis Kelinci. Bahkan sate ayam juga masih disediakan untuk para pembeli yang tidak menyukai daging kelinci. Harga yang ditawarkan juga tidak menguras kantong, hanya dengan Rp. 11.500 1 porsi sate kelinci pun dapat langsung dinikmati. Kedepannya, mereka akan menambah menu baru dan membuat kemasan baru serta branding image dalam rangka mengembangkan inovasi dari bisnis tersebut.

Usaha kreatif lainnya adalah usaha yang dilakukan oleh sahabat Duo Mona yaitu Mona Ervita dan Mona Meilinda yang melakukan usaha makanan berupa lumpia yang disebut “Crunchlicious” yang berarti lumpia yang gurih dan renyah. Berawal dari hobi memasak dari kedua mahasiswi jurusan Ilmu Hukum’11 tersebut, maka terpikir untuk memulai bisnis makanan yang berasal dari Semarang tersebut karena melihat di Palembang juga belum dijumpai bisnis lumpia.

Ide yang dituangkan dalam bisnis tersebut juga cukup kreatif. Lumpia yang biasanya hanya diisi sayur atau ebi (udang), mereka modifikasi menjadi bermacam-macam isi seperti isi kornet, isi sosis dan bahkan isi kurma seharga Rp.1000 – Rp.2000. Dengan modal awal Rp. 100.000, lumpia tersebu sudah diminati rekan sesama mahasiswa terutama di Fakultas Hukum sendiri, seperti yang diungkapkan Mona Ervita mengenai kemajuan usahanya tersebut. “Banyak teman-teman di kampus yang memesan, baik dalam keadaan mentah ataupun sudah digoreng. Kami juga menggunakan system delivery untuk system pejualan kami dan itu gratis”, ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dalam melakukan usaha tersebut sedikit banyak juga memiliki hambatan. “Usaha lumpia ini juga gampang-gampang susah. Kami juga masih bingung dengan masalah penjualan dan juga harus menyesuaikan dengan jadwal mata kuliah”, tambahnya. Ia juga berharap usaha lumpia tersebut dapat maju dan bisa dibawa ke Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan. (ddk)
Reporter : Dedek Mareta
Foto: Dok. Pribadi
Editor: Dheni Puji Rahayu

Dikutip dari LPM GS UNSRI

Dedi Kurniawan, Raih Prestasi Diluar IPK


GS. Menjadi seorang mahasiswa berprestasi dengan mendapat IPK tinggi mungkin banyak yang telah mengalami. Namun jika mendapat IPK tinggi dan meraih prestasi di luar kampus, tidak banyak yang dapat mengalaminya. Dedi Kurniawan Agribisnis 2010, salah seorang mahasiswa yang mendapat predikat mahasiswa berprestasi tahun 2012.

Penghargaan ini didapat saat acara buka puasa bersama yang diadakan oleh Universita
s Sriwijaya di Masjid Al- Ghazali Bukit Besar Palembang, Rabu (8/8). Saat hadir dalam acara tersebut, Dedi menjadi satu-satunya laki-laki yang mendapat penghargaan. Saat diwawancarai satelah acara, ia bersyukur dan mengunggkapkan perasaannya karena telah mendapat penghargaan tersebut. “Alhamdulillah, yang pasti sangat senang dan bangga dengan mendapat pengharggan tersebut”, Ungkapnya. Ia juga menjelaskan bahwa ia bukan satu-satunya laki-laki yang mendapat penghargaan tersebut. “Harusnya ada satu laki-laki lagi dari fakultas lain, namun tidak dapat hadir dalam acara”. Lanjutnya.

Penghargaan yang diterima Dedi tidak mudah ia dapat. Ia mendapat penghargaan tersebut setelah mengikuti Kompetisi Riset Aksi di Jakarta yang diselenggarakan oleh Masyarakat Ilmu Teknolongi Indonesia (MITI) dan menjadi juara harapan 2 di ajang kompetisi esai yang diadakan di Jakarta. Selain berkecimpung di dunia akademik, ia juga ikut berbagai organisasi seperti Lembaga Dakwah Fakultas BWPI, Radio Komunitas RAMA Sriwijaya, Forum Aktivis Dakwah Kampus, dan U-Read. (ddk)

Reporter: Dedek Mareta
Foto: Dok. Pribadi
Editor: Dheni Puji Rahayu

Dikutip dari LPM GS UNSRI

Selasa, 07 Agustus 2012

GS Care Sampaikan Fakta Bahwa Kita Peduli


GS. LPM Gelora Sriwijaya melalui program terbarunya GS Care Sabtu, (4/8) lalu menyerahkan sejumlah bantuan kepada anak-anak panti asuhan Siti Aisyah, Jl. Kol. H. Burlian Sukabangun 1 No. 68 Kecamatan Sukarame Palembang berupa sejumlah uang, pakaian layak pakai dan buku bacaan. Bantuan yang disumbangkan merupakan sumbangan dari mahasiswa Universitas Sriwijaya. Selain dari mahasiswa Unsri, bantuan juga didapat dari masyarakat kota Palembang melalui aksi GS Care Turun ke Jalan Sabtu, (28/7) oleh Crew LPM GS Unsri di dua titik lokasi yaitu Simpang empat Charitas dan simpang Siti Khadijah.

Bendahara panti, Siti Aisyah menyambut baik bantuan yang diberikan kepada panti asuhan tersebut. “Alhamdulillah anak-anak dipanti asuhan ini ikut terbagi bantuan dari adik-adik sekalian” Ungkapnya. Sekitar 50 anak penghuni panti juga banyak mengucapkan terima kasih kepada segenap mahasiswa Unsri dan masyarakat kota Palembang yang telah memberikan bantuan tersebut.

Rudy Kristianto selaku ketua pelaksana GS Care mengungkapkan tujuan dari GS Care ini sendiri agar kita sadar betapa indahnya saling bernagi, menyisihkan rezeki untuk memanen pahala dibulan ramadhan, serta menumbuhkan solidaritas kepada sesama yang membutuhkan. “Semoga kedepannya kita semakin paham apa itu peduli dan kita dapat sampaikan fakta bahwa kita peduli”. Harapnya.

GS Care sendiri merupakan program baru LPM Gelora Sriwijaya yang mengajak mahasiswa Unsri untuk menunjukkan rasa kepedulian terhadap sesama. Dan kedepannya, GS Care akan menjadi program tahunan bagi Crew LPM GS Unsri. (ddk)
Reporter: Dedek Mareta
Foto: Dedek Mareta
Editor: Dheni Puji Rahayu

Dikutip dari LPM GS UNSRI

Gubma FISIP: Organisasi Mampu Mendidik Secara Karakter


IPK tinggi hanya mengantarkan kita sebatas pada job interview, tetapi leader atau kepemimpinan mengantarkan kita pada masa depan.
GS. Gubernur mahasiswa FISIP Unsri Agung Prihatna mengungkapkan mahasiswa FISIP yang kental akan politik harus bisa berfikir secara intelektual “Dengan organisasi mampu mendidik secara mentalitas dan karakter” ujarnya saat ditemui GS di sekretariat BEM FISIP Unsri, Rabu, (01/8) siang. Karakter yang dimaksudkan adalah mahasiswa FISIP mampu menemukan karakternya sendiri.

Agung menambahkan mahasiswa FISIP selain belajar harus dituntut dengan tiga hal, yaitu budaya membaca, budaya menulis, dan budaya berdiskusi. Karena tiga hal inilah yang menunjang mahasiswa FISIP berfikir intelektual dan kritis. Mahasiswa jurusan Sosiologi 2008 yang telah Aktif sejak semester satu ini berharap maba FISIP 2012 nantinya selepas dari nantinya beroganisasi atau tidak dapat membudayakan tiga budaya tersebut.

Tahun ini untuk mahasiswa baru FISIP Unsri 2012 sendiri mengalami peningkatan dari 240 menjadi 320 mahasiswa dan itu memberikan antusias tersendiri dari peningkatannya tersebut. Harapan Agung untuk FISIP sendiri adalah sesuai dalam visinya yaitu “FISIP Go Internasional” yaitu mebawa FISIP dalam kancah internasional. (den/ddk)
Reporter: Dheni Puji Rahayu dan Dedek Mareta
Foto: Dok. Pribadi
Editor: Imam Rosevelt Dimas

Dikutip dari LPM GS UNSRI