GS. Untuk memulai sebuah usaha memang diperlukan ide agar usaha tersebut menjadi ladang bisnis. Hal ini lah yang dilakukan Dika dan Jovi, dua mahasiswa jurusan Manajemen’11 yang membuat usaha sate kelinci “Sate Kelinci Pakjo”. Usaha bersama yang dilakukan kedua mahasiswa tersebut yang baru dimulai saat masa semester pendek lalu di Jl. Swadaya 2 Pakjo.
Berawal dari usaha catering yang dimiliki Dika dan ternak kelinci yang digeluti Jovi serta melihat adanya peluang, maka terciptalah ide untuk membuat usaha makanan yang hanya biasa dijumpai di daerah Puncak tesebut. Dengan omset sekitar Rp. 300.000 per hari dan mendatangkan bahan baku berupa daging kelinci segar dari Bandung, mereka dapat menyajikan menu seperti Sate Kelinci Pakjo, Sate Kelinci Kecap, Kelinci Crispy dan juga Mie Tumis Kelinci. Bahkan sate ayam juga masih disediakan untuk para pembeli yang tidak menyukai daging kelinci. Harga yang ditawarkan juga tidak menguras kantong, hanya dengan Rp. 11.500 1 porsi sate kelinci pun dapat langsung dinikmati. Kedepannya, mereka akan menambah menu baru dan membuat kemasan baru serta branding image dalam rangka mengembangkan inovasi dari bisnis tersebut.
Usaha kreatif lainnya adalah usaha yang dilakukan oleh sahabat Duo Mona yaitu Mona Ervita dan Mona Meilinda yang melakukan usaha makanan berupa lumpia yang disebut “Crunchlicious” yang berarti lumpia yang gurih dan renyah. Berawal dari hobi memasak dari kedua mahasiswi jurusan Ilmu Hukum’11 tersebut, maka terpikir untuk memulai bisnis makanan yang berasal dari Semarang tersebut karena melihat di Palembang juga belum dijumpai bisnis lumpia.
Ide yang dituangkan dalam bisnis tersebut juga cukup kreatif. Lumpia yang biasanya hanya diisi sayur atau ebi (udang), mereka modifikasi menjadi bermacam-macam isi seperti isi kornet, isi sosis dan bahkan isi kurma seharga Rp.1000 – Rp.2000. Dengan modal awal Rp. 100.000, lumpia tersebu sudah diminati rekan sesama mahasiswa terutama di Fakultas Hukum sendiri, seperti yang diungkapkan Mona Ervita mengenai kemajuan usahanya tersebut. “Banyak teman-teman di kampus yang memesan, baik dalam keadaan mentah ataupun sudah digoreng. Kami juga menggunakan system delivery untuk system pejualan kami dan itu gratis”, ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa dalam melakukan usaha tersebut sedikit banyak juga memiliki hambatan. “Usaha lumpia ini juga gampang-gampang susah. Kami juga masih bingung dengan masalah penjualan dan juga harus menyesuaikan dengan jadwal mata kuliah”, tambahnya. Ia juga berharap usaha lumpia tersebut dapat maju dan bisa dibawa ke Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan. (ddk)
Reporter : Dedek Mareta
Foto: Dok. Pribadi
Editor: Dheni Puji Rahayu